Di Perancis, ada 14.802 kematian yang berhubungan dengan panas (terutama di kalangan orang tua) selama terjadinya gelombang panas, menurut data dari Institut Kesehatan Nasional Perancis.[4][5] Perancis pada umumnya tidak mengalami musim panas yang sangat panas, terutama di daerah utara,[6] namun selama tujuh hari pada bulan Juli-Agustus 2003, Perancis memiliki suhu lebih dari 40 °C (104 °F), yang tercatat di Auxerre, Yonne. Karena musim panas biasanya relatif sedang, kebanyakan orang tidak mengetahui bagaimana cara untuk bereaksi terhadap suhu yang sangat tinggi (misalnya, mengenai rehidrasi), dan sebagian besar rumah warga dan fasilitas perumahan yang dibangun dalam 50 tahun terakhir tidak dilengkapi dengan penyejuk udara. Selain itu, suhu tinggi sangat jarang dianggap sebagai ancaman utama.
Bencana itu terjadi pada bulan Agustus, bulan di mana banyak orang, termasuk menteri pemerintah dan dokter, sedang berlibur. Banyak mayat yang tidak diklaim selama berminggu-minggu karena kerabat mereka sedang berlibur. Sebuah gudang berpendingin di luar Paris digunakan untuk menampung mayat karena mereka tidak memiliki cukup ruang di fasilitas mereka. Pada 3 September 2003, lima puluh tujuh mayat yang masih tidak diklaim di kawasan Paris dikuburkan.
Tingginya angka kematian dapat dijelaskan dengan mengaitkan peristiwa-peristiwa yang tampaknya tidak berhubungan. Pada hari-hari normal, hampir setiap malam di Perancis cuacanya dingin, bahkan di musim panas sekalipun. Akibatnya, rumah-rumah (biasanya rumah batu, beton atau bata) tidak terlalu hangat selama siang hari, dan AC biasanya tidak diperlukan. Selama gelombang panas, suhu mencapai rekor tertinggi bahkan di malam hari, yang mencegah siklus pendinginan yang biasanya terjadi. Warga usia tua yang tinggal sendirian belum pernah menghadapi cuaca panas yang ekstrim seperti ini, dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi, atau terlalu dilemahkan oleh cuaca panas sehingga tidak mampu mempertahankan diri. Warga usia tua yang tinggal dengan keluarga mereka atau di panti jompo mungkin bisa mengandalkan bantuan dari orang lain untuk melindungi diri. Hal ini menyebabkan kelompok-kelompok usia yang paling lemah memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibandingkan dengan warga yang sehat secara fisik, sebagian besar korban berasal dari kelompok warga usia tua.
Buruknya sistem kesehatan negara sehingga mempengaruhi jumlah korban tewas adalah salah satu masalah yang menjadi kontroversi di Perancis. Pemerintahan Presiden Jacques Chirac dan Perdana Menteri Jean-Pierre Raffarin menyalahkan para keluarga yang meninggalkan orang tua mereka saat mereka berlibur. Selain itu, sistem hari kerja 35 jam, juga dituding mempengaruhi jumlah dokter yang bertugas pada saat itu. Banyak perusahaan-perusahaan yang tutup pada bulan Agustus, sehingga karyawan tidak punya pilihan lain selain pergi berlibur. Dokter keluarga juga memiliki kebiasaan untuk berlibur pada waktu yang sama.
Oposisi dan sebagian besar editorial pers lokal menyalahkan pemerintah atas banyaknya korban. Kebanyakan dari mereka menyalahkan Menteri Kesehatan Jean-François Mattei karena tidak segera kembali dari liburannya di saat ancaman gelombang panas semakin serius, dan para pembantunya juga memblokir tindakan darurat di rumah-rumah sakit umum (seperti panggilan untuk dokter). Seorang kritikus, Dr. Patrick Pelloux, kepala serikat dokter darurat, menyalahkan pemerintahan Raffarin karena mengabaikan peringatan dari para profesional kesehatan. Mattei kehilangan jabatannya dalam perombakan kabinet pada tanggal 31 Maret 2004.

